panduan praktis

Lampiranmu sering nggak dibuka. Kirim satu link

Lampiran punya nasib yang sama di mana-mana: ditunda, lalu terlupakan. Link dibuka sambil jalan. Bagian ini membahas cara menyiapkan link yang layak dikirim, dan cara mengirimnya supaya tidak terbaca seperti pesan massal.

oleh tim Portalio·diperbarui 5 September 2026·6 menit baca·4 bagian

Daftar isi

Menyiapkan linknya sebelum dikirim

  1. Link yang bisa dibacakan. Nama kamu, tanpa angka acak. Kamu harus bisa menyebutkannya lewat telepon tanpa mengeja.

  2. Judul halaman yang benar. Judulnya muncul saat link ditempel di WhatsApp atau LinkedIn. Pastikan berisi nama dan bidangmu.

  3. Foto yang wajar. Kartu preview link sering menampilkan foto. Foto gelap atau terpotong bikin kesan pertama yang aneh.

  4. Kontak yang terlihat tanpa menggulir. Kalau perekrut tertarik di detik kelima, jangan buat dia mencari.

Contoh kalimat pengantar

Email: "Selamat pagi Bu Rina, saya Dimas, melamar posisi Content Writer yang diiklankan di LinkedIn. Contoh tulisan dan pengalaman saya ada di portalio.id/myweb/dimas. Ada tiga artikel yang topiknya dekat dengan produk Ibu. CV lengkap terlampir."

WhatsApp, kalau memang diminta lewat WhatsApp: "Halo Pak, ini Dimas yang tadi menghubungi soal lowongan Content Writer. Portofolio saya: portalio.id/myweb/dimas. Terima kasih waktunya."

Dua-duanya menyebut satu hal yang spesifik tentang perusahaan atau lowongannya. Itu satu-satunya bagian yang membedakan pesanmu dari pesan yang disalin ke lima puluh orang.

Menaruhnya di empat tempat sekaligus

  1. Tanda tangan email. Satu baris di bawah namamu. Ikut di setiap email tanpa kamu pikirkan lagi.

  2. Profil LinkedIn. Di kolom Featured dan di bagian Contact info.

  3. CV. Sejajar dengan alamat email, di bagian paling atas.

  4. Bio media sosial. Kalau kamu memakainya untuk hal profesional.

Pertanyaan yang sering muncul

Kalau perusahaannya tetap minta lampiran PDF?

Kirim keduanya. Lampirkan CV seperti yang diminta, lalu sebut linknya satu baris di badan email. Kamu memenuhi permintaannya tanpa kehilangan cara yang lebih besar kemungkinannya dibuka.

Aman tidak menaruh nomor HP di halaman yang bisa dibuka siapa pun?

Kalau kamu ragu, jangan. Email sudah cukup untuk semua tahap awal, dan nomor bisa kamu berikan setelah percakapannya nyata. Halaman portofolio tidak wajib memuat semua cara menghubungimu.

Bagaimana kalau ternyata linknya tidak dibuka?

Link yang tidak dibuka biasanya bukan salah linknya, melainkan kalimat pengantarnya. Pesan yang tidak menyebut apa pun tentang perusahaan itu terbaca seperti kiriman massal, dan kiriman massal memang diabaikan.

Boleh mengirim lamaran lewat WhatsApp?

Boleh kalau memang itu yang diminta di iklan lowongannya. Jangan mengirim ke nomor pribadi yang kamu temukan sendiri. Kalau lewat WhatsApp, tetap pendek: siapa kamu, posisi apa, satu link.

Punya CV? Halamannya bisa jadi hari ini juga.

Upload CV kamu, isinya dibaca otomatis jadi draf portofolio, lalu post dengan satu link yang bisa langsung kamu bagikan.